Skip to main content

Trippo #1

26-30 Juni yang lalu menjadi kenangan yang amat sangat luar biasa banget BERHARGA bagi gue. Yup, lima hari itu gue pake buat (pertama kali) jalan-jalan ke luar negeri aka abroad ke Singapore. Negara kota yang kuecil banget, yang katanya luasnya ngga lebih dari luas Jakarta ini, bisa dibilang sangat keren! Meskipun yah, iklim sama cuaca gak beda sama jalan kedondong yang di deket rumah gue.

Kembali ke Singaparna, eh Singapore maksudnya. Negara multietnis ini luar biasa banget. Mulai dari airport yang super woke, fasilitas publik yang nyaman banget, transportasi, trotoar yang guede, dan akulturasi kultur (ceileeh!). Jadi ya gitu, di sana banyak banget etnis Cina, India, dan Melayu. Tapi mostly, yang paling gue sering temuin adalah Cina, terus India, terus Melayu. Yang Melayu, kalau mereka gak ngomong, bakal rada susah dibedain sama Indonesia atau Malaysia. Yah, maklum lah, serumpun gitu.

Okay, ini gue ceritain firstday di Singapore.

Day 1 - June 26th
Berangkat dari rumah sekitar jam 3.30. Gue genepin malem itu gak tidur sama sekali. Yah, hari bersejarah dalam hidup gue, haha. Pesawat yang udah dipesen itu maskapai Batavia Air. Pesawatnya 3 seats, 25 rows. Okeh, Bahasa Indonesianya : 3 Kursi 25 Baris. Barisnya kan ada kiri kanan. Jadi totalnya, hitung saja sendiri. Ok, gue berangkat bareng Bude, Mbak Dian, Mami. Dianter sama Mas Leo dan Pak Maman dari AU, dan satunya lagi pak siapa gitu. Kalau berangkat tempo, emang enak banget ya, jalanan berasa milik sendiri. Sampai di terminal D, kita langsung check-in, urusan bagasi, dan ke counter penerbangan bebas fiskal. Oh ya, under 21 itu sekarang bebas fiskal. Caranya supaya bebas fiskal itu nunjukin kartu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Abis itu ngantri, cek paspor, terus di cap-cap. Oh ya, jangan sampai lupa dan ngilangin kartu keberangkatan. Selepas dari Check In, nanti dapet Kartu Keberangkatan. Punya Indonesia warnanya merah. Isi sebelum pengecapan Paspor.

Selama nunggu boarding dan masuk gate, kita keliling aja di Bandara. Lumayan ada Batik Keris, Chocolate Shop, dan lainnya. Kalo rada laper, sok aja mampir di Coffee Bean atau Starbucks lupa lah saya atau ada juga Puff Pastry, dll.

Gate gue waktu itu D-04, take off jam 7. Ga perlu nunggu lama, setelah di cek pake Xray dst, kita langsung masuk pesawat. Kalau mau gak bosen, bawa aja ipod atau mp3 atau lainnya. Berhubung gue ga punya, jadi ya pindah aja mode phone jadi Flight Mode. So you can keep listening to music, etc. Maskapai Batavia Air biasanya nyediain snack sama teh/kopi. Jadi gak ada makanan pesen gitu. Di pesawat, sempatin waktu buat ngisi kartu keberangkatan Singapore, the Green one. Kenapa kudu di pesawat? Biar loe gak usah ngantri, ribet di bandara buat ngisi-ngisi si kartu itu. Lalu, jam 09.45 waktu singapura (di Jkt 08.45) sampai di Changi.

WELCOME TO CHANGI, SINGAPORE
Eya, mulai udik gue. Haha. Yup, kesan pertama memasuki Changi adalah : Wuah! I'm dreaming if Soekarno-Hatta could be like this place. Semuanya bersih, make karpet, ac, semuanya didesain semodern mungkin. Jauh banget sama bandara di Indonesia. Bahkan gue rasa, di airport aja udah jadi spot yang keren buat foto, haha.






















Begitulah tampang kami yang baru sekali ini memasuki negeri orang, except nyokap. Gila banget deh si Changi ini. Nah, terus pas kita nyampe, kita nyobain drinking water. Itu loh yang kayak wastafel buat minum. Di Changi, selepas ngambil bagasi, kita ke Money Changer UOB dan beli SimCard Singapore. Gue beli yang Hi!, kalau gak salah harganya $15 (Singapore Dolar) dapet pulsa $18. Kalau lo kirim sms 5 kali ke manapun (ke Indonesia, waktu itu sms bokap) bisa dapet 75 free global sms sampe ke thailand, dan filipina. Terus kita mampir ke Killiney, sejenis kantin yang nyediain makanan kayak Laksa, dll.

Keluar dari area arrival, kita ke changi mall. Hhmm, kayak tempat belanjanya gitu. Ke Times, toko buku. Gue dapet Buku HarPot 6 dengan harga $8. Lumayan kan, apalagi Bahasa Inggris. Kan kalau di Indo mahal banget. Terus ke counter Crocs. Liat-liat aja, ngga beli. Abis itu foto-foto di Changi, hahaha *udik. Kalau mau keluar kita bisa ke Terminal 3, naik airtrain.

Dari Changi, kita naik Taxi ke tempat penginapan Lucky Plaza Apartment. Lokasinya deket banget sama Mount Elizabeth Hospital, dan pas di seberangnya Jl. Kayu Manis. Cuma, kalo di Singapore, Pengemudi Taxi itu rada sombong dan galak-galak. Jadi kesannya, bukan taxi yang mengejar penumpang, tapi penumoang yang ngejar Taxi. Di sini, Taxi berhak nolak Penumpang, kalau tujuannya ga sesuai sama keinginan si pengendara. Horrorabilia banget gak sih!

Sampai di kamar 1002-6, kita rada kaget juga. Kamarnya itu kecil, diisi 3 tempat tidur. Kayak kamar kos-kosan. Tapi bersih banget dan pake AC. Terus mbak yang jaga juga baik banget. So far, gue gak masalah sih. Tapi harga yang ditawarkan itu cukup mahal. Sekiar $136 per malam. Tapi itu udah paling murah di singapore kalau lagi holiday season. Kalau rate normal sekitar $90an.

*kabarnya, tahun depan udah nggak ada apartemen kecil kayak gini, gara-gara dianggep ilegal. Jadi buat yang mau berkunjung ke Singapore, hunting dulu yang bener, jangan sampe ga dapet penginapan dan terpaksa nginep di tempat yang jauh lebih mahal.

Tadinya kita ga di lucky apt. Tapi, apartemen satunya udah di razia, entah kenapa. Mungkin karena kalau di apartemen itu jatohnya dianggep ilegal karena ga bayar pajak ke negara. Jadi kalau mau aman ya nginep aja di hotel. Cuma rate hotel di singapore itu mahalnya selangit, makanya orang milih apartemen dibanding hotel.

Selepas istirahat bentar, cuci muka (oiya, di Lucky apt, kamar mandi bersama ya! Kecuali kamar no 1002-1 sama 1002-2 dapet kamar mandi dalem kamar.) Kita mulai jalan buat lunch. Kita makan di Food Republic. Sejenis food court gitu. Terus dilanjutkan dengan jalan-jalan. Mulai dari mall, Little India, sama Arab Street. Little India itu satu daerah sama Mustafa Centre. Dan Arab Street satu daerah sama Sultan Mosque. Di Little India, bisa bikin mahindi. Itu loh yang diukir-ukir di tangan make heena. Kalau lo pinter nego, bisa dapet $5 tiap tangan, dengan ukiran di 5 jari. Kira-kira seperti ini jadinya :















Check my hands! don't my face!

Setelah jalan, capek banget, kita makan malem di The Banquet, di Raffless Hospital. Sama kayak food republic. Tinggal pilih mau apa terus langsung bayar deh, haha.

Yup, setelah itu kita pulang dan tidur. Hari pertama emang susah ya, soalnya butuh adaptasi. Belum lagi bahasa mereka, Singlish, yang bikin bingung.

See ya on second day!

Tips : Tabah aja kalau dapet taxi jutek kayak gue. Di hari pertama, nightmare buat gue, soalnya tukang taxinya jutek semua. Terus, pahamin orang Singapura ya guys! Mereka itu mau semuanya cepet. Kadang mereka bisa galak banget dan gak suka semua yang lambat. Nah, contoh kalau lagi pesen makan, tentuin dulu mau pesen apa, baru kita ngantri. Kalau kelamaan, bisa dijutekin sama yang jual. Begitupun kalau bayar taxi. Usahain udah nyiapin dompet di tangan. They hate waiting!

Comments

Popular posts from this blog

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Drama Ngeklik Internsip (Part 2) : END!

I'm dying to get this announcement! Setelah beberapa minggu ini cukup hectic, saya baru kesampaian untuk menuliskan pengalaman ngeklik isip yang dag-dig-dug-dhuar itu. Karena sudah telat updatenya, jadi saya segera ceritakan saja ya, tentang jatuh bangun ngeklik isip. Note : sebetulnya agak hiperbola kalau dibilang drama. Tapi, ini adalah salah satu momen drama dalam hidup saya akhir-akhir ini. jadi, enjoy aja ya. kan kalo judulnya nggak drama, nanti kalian ngga mau baca lagi hahaha lol! Phase 1 : Survey! Sebulan atau dua bulan sebelum ngeklik, saya survey nih ya ke tempat ngeklik. Ngapain sih survey? Dasarnya adalah karena warnet ini jauh banget dari rumah saya, dan saya sangat asing dengan daerah ini. Kebetulan saya nganggur, saya memutuskan buat mengunjungi warnet-warnet ini. Dua warnet yang saya pilih adalah Mineski dan Supernova, dan dua-duanya berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Beneran buta daerah sana. Selain itu, saya juga sebenernya pengen tahu...

Euforia World Cup

Waa, saya lagi pengen nonton bola! Tepatnya lagi hot-hotnya nonton bola. Bukan berarti bola gelinding, terus gue pantengin sampai jereng, tapi nonton World Cup. Yup, ajang sepakbola terbesar yang diadain 4 tahun sekali ini ditunggu jutaan umat manusia, salah satunya gue. World Cup emang beda dari cup-cup yang lain. Kalau menurut gue, tayangan wajib nonton adalah Euro sama World Cup. Dan jagoan kali ini dan selamanya tak lain dan tidak bukan adalah G e r m a n y.. OK, sekarang bukan saatnya ngomongin siapa yang bakal juara atau siapa tim favorit. Tapi tentang euforianya, tentang ramenya ajang sepak bola ini, tentang hebohnya, dan tentang sukacitanya. Banyak banget orang-orang Afrika yang (maaf) lagi kesusahan, tapi bisa sejenak senang-senang gara-gara si world cup, yah pokoknya, World Cup membawa kebahagiaan. Gak sekedar pertarungan antara tim dari negara mana yang paling hebat. It gives some spirits, happiness, and laughs to all people. Personally, I'm admiring to Soccer. Not just ...