Skip to main content

She is a Ghost, She is Falling in Love (9)

"Kalau emang waktu gue memang udah selesai, gue rela. Toh, bukan jasad yang membuat gue hidup. Tapi cinta, cinta gue buat dia. Selamanya." 
Dan semua pun sunyi, gelap, bahkan hembusan napas pun tak ada.

--

Pintu UGD terbuka. Dua buah bangsal siap membawa tubuh Reana dan Angga. Keduanya tak sadarkan diri. "Dok, anak-anak ini kritis. Keduanya harus segera dioperasi," ujar seorang perawat begitu Reana dan Angga sampai di ruang UGD. "Baik, akan segera saya hubungi Dokter Emil dan Dokter Nakula. Tolong siapkan ruang operasi segera!" ujar Dokter Andi tegas. Kebetulan ia yang mendapat tugas jaga malam itu.
"Mana kedua orang tua anak-anak itu? Kok mereka sampai kecelakaan?" tanya Dokter Andi kepada salah seorang perawat.
"Kecelakaan, dok. Tabrak lari sama angkot. Orang tua mereka ada di luar, masih histeris," ujar seorang suster cepat-cepat.

--

"Papa, mana Sadewa, Pa? Angga gimana, Pa? Anggaaaaaa...!" teriak Tante Grani sambil menangis. Om Dennis pun berusaha menenangkan istrinya. "Tenang, Ma. Sadewa sudah menuju ke sini sebentar lagi. Ma, ayo kita doakan Angga, Ma. Ayo, Ma," bujuk Om Dennis. Tiba-tiba ada sesosok wanita berdiri di pintu depan UGD.
"Grani!," teriaknya.
Tante Grani segera menengok, mencari sumber suara itu. Ketika mata mereka berpandangan, mereka pun langsung mendekat dan berpelukan. Keduanya menangis.
"Grani, Dennis, Reana gimana? Reana gimana, Gran? Aku nggak punya siapa-siapa lagi kalau dia pergi...," ujarnya sambil menangis."Erri, Erri, kita sama-sama gelisah, sama-sama takut. Aku juga takut Erri. Putra bungsuku, dan, Reana juga," seru Tante Grani tersedu-sedu.
"Keluarga dari Reana dan Angga?" tanya seorang suster. Om Dennis yang paling tenang pun langsung beranjak dari tempat duduknya. "Iya sus, saya ayah Angga dan ini ibunya Reana," ujarnya sambil menunjuk Tante Erri. Om Dennis tenang, tapi tampak sekali raut khawatir, sedih, dan matanya pun basah. "Ehm, tapi biarkan saya yang jadi perwakilan. Ada apa, Sus?" sambung Om Dennis lagi.
"Reana dan Angga mengalami pendarahan parah di kepala. Keduanya akan segera dioperasi. Saya menanyakan persetujuan dari pihak keluarga, Pak" ujar suster tersebut sambil menyerahkan seberkas kertas.
"Lakukan, sus. Kami setuju. Usahakan yang terbaik bagi kedua anak kami, Sus," ujarnya.

--

Di Ruang Operasi..

"Dok, bagaimana kondisinya? Stabil dua-duanya?" tanya Dokter Andi. Angga dan Reana ada dalam satu ruang operasi. "Hmm, yang laki-laki lebih parah, Dok." ujar Dokter Emil. "Darahnya sudah terlalu banyak yang keluar. Kita butuh transfusi," sambung Dokter Emil.
Tiba-tiba, baik Angga maupun Reana, mengalami perlambatan pada detak jantungnya.

--

"Angga, stay alive please..Stay in here,"

"Gimana kalau gue nggak mau ninggalin lo? Please, Re. Gue mau di sini sama lo. Di sini terang, hangat. Selama ada lo,"

"It's not your time. It's mine. You will stay alive. Okay? I'm staying in here. I'm not going anywhere. In your heart,"

Dan alat pendeteksi jantung itu berbunyi. Namun, hanya sebuah saja.

--

Malam itu, tetap gelap seperti biasa. Dan kamar Kiran pun tetap sunyi. Tak ada apapun di kamar itu. Kiran pun sedang nyenyak tertidur. Matanya terpejam.
Raut wajahnya yang tenang, tiba-tiba mengerut. Ia gelisah dalam tidurnya. Tubuhnya mulai bergerak tak tenang.
"Haaaaaah!" teriaknya singkat. Ia membuka mata. Ia menarik napas dan mengelap dahinya yang berkeringat.
"Nggak Re. Lo nggak boleh pergi. Nggak! gue cuma mimpi!" gumamnya. Ia pun memutuskan untuk tidur kembali.

Ketika ia mulai stabil, matanya perlahan tertutup. Tapi Kiran belum sepenuhnya tidur. Di saat setengah sadar, ia merasa ada suara yang berbisik halus.

"Kiran, jagain Angga, ya. I trust you, thanks,"

Kiran yang setengah sadar mencoba untuk tidak menghiraukannya.

Comments

Popular posts from this blog

Have You Ever : Miss The "Old" You ?

Halo semua, sebelumnya maafin ya, saya sering banget mengingkari mau nulis ini dan itu tapi pada akhirnya nggak kesampaian. Lazy is my biggest mistake, nowadays . Dan itu yang membatasi saya meraih target, dan segala sesuatu yang sudah saya rancang selama ini. Saat ini, saya sedang berlibur di rumah. Lumayanlah, satu minggu di rumah, bersama orang-orang yang amat-sangat saya sayangi dan kangeni (yang ketemunya paling kurang dari 30 hari dalam setahun). Ya, saya harus ngekost untuk kuliah di Semarang. Oke, masa-masa cengeng itu sudah berlalu dan nggak perlu saya ceritakan. Dan sempat juga ngunjungi makam Papo, ketemu ponakan yang sekarang sudah sangat gembul, namanya Adinda alias Adul, ketemu teman-teman SMA yang sekarang bertransformasi (kecuali Dela, masih lucu without effort , baik dan sabar nya tetep). Eh, I mean bertransformasinya cuma penampilan kok. Kemarin mereka (Naomi, Lisbeth, Yunita) berhasil sih bikin saya tertawa seharian. Di tempat umum. Mengenang masa-masa jaman SMA (l...

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

HOLIDAY BUDDIES : First Abroad Trip (Part 1 : Let’s Prepare This and That!)

Halo, semuanya! Seperti janji yang sudah-sudah, saya akan menceritakan kisah perjalanan saya pertama kali ke luar negeri bersama sobat-sobat. Trip kali ini memakan waktu 11-12 hari. Kenapa lama? Karena kebetulan kita main ke 2 negara. Apakah low budget ? Simpan sejenak kalkulatormu, kalau kami bisa, kenapa kalian enggak? Semua bisa karena menabung dan usaha. Jadi, kita bicarakan biaya nanti. Akan lebih sistematis kalau seandainya kita membahas satu-persatu mulai dari persiapan. THINGS YOU HAVE TO DO! 1. Tentukan Destinasi Penting banget karena ini adalah inti dari segalanya. Kamu mau kemana? Karena ini adalah liburan pertama kami, jadi kami memutuskan untuk ke negara lain yang tidak butuh visa namun harganya juga bersahabat. Pilihan jatuh ke Thailand dan Malaysia. Kami mencoret Singapura karena masalah waktu dan biaya. Kurs Dolar Singapura kurang bersahabat, bung! Selain itu, perjalanan bisa sampai 15-16 hari mungkin, kurang efektif bagi kami. 2.  ...