"Egis, lo harus tauuu!" Sekar mendatangi sobatnya, terburu-buru. Tangannya memegang erat sebuah majalah. Egis yang sedang melamun sambil makan ketoprak di kantin, agak terkejut.
"Hah, kenapa lo? Ada yang penting banget ya, sampai lari terbirit-birit gitu?"
"Gisella, lo harus liat "Sastra" edisi bulan ini! Sumpah Egiiiiis!!! Isinya sangat....sangat.....ah, udahlah. Lo baca sendiri aja, gue sampai speechless," Sekar bicara dengan kecepatan cahaya tanpa ambil napas. Sudah bisa dipastikan bahwa si nona rempong ini langsung ngos-ngosan. Ia diam untuk menghirup napas, sambil menyerahkan majalah "Sastra" pada Egis. Egis mengambil buku itu, lalu membolak-balik tiap halaman. Namun wajahnya tidak kalah datar dari jalan yang baru diaspal.
"Sumpah Egis, tumben banget ini anak-anak mading sekolah bikin artikel yang so sweet kayak gini. Gue baca aja sampe merem melek. Dan ini HARUS-LO-PRAKTEKKIN," Sekar sibuk promosi bak orasi menuntut kenaikan UMR.
"Apanya yang bagus deh? Ini....tentang cinta-cintaan kan? Kok tumben sih ngebahas beginian? Valentine udah kapan tau," Egis bicara dengan ketus. Sekar pun mengambil majalah dari tangan Egis, menggulungnya sehingga jadi seperti tongkat, lalu memukul kepala Egis, pukulan bercanda.
"Eh, Neng Geulis, lo harus liat, artikel yang judulnya "Matahari, Bulan, dan Bintang". Ternyata dari ketiga kata itu, kita bisa tau karakteristik pacar kita kayak apa. Nah, elo kan punya Angga, pacar lo yang kece tapi kayak patung. Kenapa lo nggak iseng dikit gitu, nanyain kuisioner ini ke dia?"
"Kenapa menurut lo gue harus nanya ke dia?" Egis mulai serius, kembali mengambil majalah dan membaca artikel yang dimaksud.
Sekar hanya menghela napas. Berpikir sejenak, bagaimana cara untuk menyampaikan segala unek-uneknya terhada Angga, pacar sahabatnya sendiri.
"Angga udah berapa lama ngediemin lo? Dia cuma sms lo doang kan? Nelpon pernah nggak? Nemenin lo makan siang ato nggak baca buku di perpus pernah nggak? Lo nggak tau kan, kalau udah ada sejuta gadis di sekolah ini yang mungkin tiap hari berharap, lo sama Angga makin jauh. Sebagai sobat lo, gue nggak rela kalo lo cuma dijadiin status without act," begitu selesai, tanpa permisi, Sekar langsung menenggak es teh manis yang dipesan Egis. Egis terdiam. Ia membaca sekilas, tepatnya hanya melihat judul.
Matahari, Bulan, dan Bintang.
Tak lama, bel pun berbunyi. Yes, saved by the bell, ucap Egis dalam hati. "Gue pinjem majalahnya, Kar. Gue balikin as soon as possible. Gue cabuut, dadaaah Sekaaaar," Egis langsung berlari menuju kelasnya. Meninggalkan Sekar, yang bingung dengan kelakuan sobatnya itu.
"Hah, kenapa lo? Ada yang penting banget ya, sampai lari terbirit-birit gitu?"
"Gisella, lo harus liat "Sastra" edisi bulan ini! Sumpah Egiiiiis!!! Isinya sangat....sangat.....ah, udahlah. Lo baca sendiri aja, gue sampai speechless," Sekar bicara dengan kecepatan cahaya tanpa ambil napas. Sudah bisa dipastikan bahwa si nona rempong ini langsung ngos-ngosan. Ia diam untuk menghirup napas, sambil menyerahkan majalah "Sastra" pada Egis. Egis mengambil buku itu, lalu membolak-balik tiap halaman. Namun wajahnya tidak kalah datar dari jalan yang baru diaspal.
"Sumpah Egis, tumben banget ini anak-anak mading sekolah bikin artikel yang so sweet kayak gini. Gue baca aja sampe merem melek. Dan ini HARUS-LO-PRAKTEKKIN," Sekar sibuk promosi bak orasi menuntut kenaikan UMR.
"Apanya yang bagus deh? Ini....tentang cinta-cintaan kan? Kok tumben sih ngebahas beginian? Valentine udah kapan tau," Egis bicara dengan ketus. Sekar pun mengambil majalah dari tangan Egis, menggulungnya sehingga jadi seperti tongkat, lalu memukul kepala Egis, pukulan bercanda.
"Eh, Neng Geulis, lo harus liat, artikel yang judulnya "Matahari, Bulan, dan Bintang". Ternyata dari ketiga kata itu, kita bisa tau karakteristik pacar kita kayak apa. Nah, elo kan punya Angga, pacar lo yang kece tapi kayak patung. Kenapa lo nggak iseng dikit gitu, nanyain kuisioner ini ke dia?"
"Kenapa menurut lo gue harus nanya ke dia?" Egis mulai serius, kembali mengambil majalah dan membaca artikel yang dimaksud.
Sekar hanya menghela napas. Berpikir sejenak, bagaimana cara untuk menyampaikan segala unek-uneknya terhada Angga, pacar sahabatnya sendiri.
"Angga udah berapa lama ngediemin lo? Dia cuma sms lo doang kan? Nelpon pernah nggak? Nemenin lo makan siang ato nggak baca buku di perpus pernah nggak? Lo nggak tau kan, kalau udah ada sejuta gadis di sekolah ini yang mungkin tiap hari berharap, lo sama Angga makin jauh. Sebagai sobat lo, gue nggak rela kalo lo cuma dijadiin status without act," begitu selesai, tanpa permisi, Sekar langsung menenggak es teh manis yang dipesan Egis. Egis terdiam. Ia membaca sekilas, tepatnya hanya melihat judul.
Matahari, Bulan, dan Bintang.
Tak lama, bel pun berbunyi. Yes, saved by the bell, ucap Egis dalam hati. "Gue pinjem majalahnya, Kar. Gue balikin as soon as possible. Gue cabuut, dadaaah Sekaaaar," Egis langsung berlari menuju kelasnya. Meninggalkan Sekar, yang bingung dengan kelakuan sobatnya itu.
Comments
Post a Comment