Skip to main content

Ayah, dengan Nama Papo

Sudah seminggu -hmm, lebih deng- ayah saya terbaring sakit. Awalniya beliau hanya merasa kakinya sakit lagi,dan sulit untuk berjalan. Biasalah, ayah saya memang punya rekam medis sebagai penderita asam urat. Walaupun -sebagaimana orang tua pada umumnya- memiliki sedikit masalah dengan asthma, hipertensi, dan lainnya, tapi sampai saat ini kondisi organnya baik-baik saja. Hanya memang, asam urat inu kerap kali jadi "langganan" ayah saya.

Saya bukan mau cerita tentang penyakit atau komplikasi atau ini-itu tentang ayah saya, Papo, (saya memanggil dengan sebutan papo, warisan dari kakak saya). Tapi saya mau cerita, tentang..ya tentang sisi lain dari Papo ini.

Papo itu, mirip sama saya. Kebetulan, fenotipe saya adalah dominan papo, sedangkan kakak saya, Mbak Dhita,dominan mami. Kalau soal sifat, lumayan mirip juga. Beliau kadang temperamen, panik, dan suka ribet sendiri. Saya juga begitu. Kakak saya juga. Ya intinya kalo soal sifat, kami merata lah hehe.

Terus, saya inget, dulu saya takut sekali sama papo. Soalnya waktu SD, saya lemot banget sama matematika, dan beliau kerap kali memarahi kalau saya nggak ngerti-ngerti walau kerap kali diulang dan diajarkan sampai tengah malam.

Tapi saya nggak nyesel kok. Mulai beranjak dewasa, saya makin mengerti pola pikir beliau. Dan tentunya makin saya dewasa, papo saya ya udah jarang lah marah-marah kalau soal pelajaran. Secara, kalau di keluarga saya, kalau udah makin besar ya harus makin tanggung jawab sama studinya.

Jadi, yang papo selalu permasalahkan adalah hal-hal kayak gini :
1. Tepat Waktu
(beliau paling nggak suka kalau saya nggak tepat waktu. kalau minta dijemput jam 12, ya harus jam segitu. konsisten)

2. Kerapihan
(karena kamar saya kayak kapal pecah, beliau selalu ngingetin)

3. Inisiatif sama Tanggung Jawab
(semakin saya sama kakak saya besar, tanggung jawab kami sama urusan rumah juga makin riweuh. apalagi sekarang nggak ada si mbak yang biasa bantu rumah. jadi kudu tanggap lah, sama urusan nyuci piring, nyapu, gembok rumah, dll)

4. Kabar
(dimanapun, kapanpun, harus ngasih tau. kalau nggak, beliau bisa missed call sampai berkali-kali)

Kesannya papo saya itu rempong. Iya sih, jujur saya suka kesel sendiri. Kenapa semua-muanya harus saya atau kakak saya yang ngerjain. Akhirnya, saya cuma ngedumel belaka.

Dan seperti yang saya bilang, hal yang paling berat, adalah saat beliau jatuh sakit.

Seperti sekarang ini.

Papo susah buat jalan, buat ngambil minum. Untungnya, hari ini beliau sudah lancar jalannya, tapi mengalami rasa sakit -yang tampaknya sakit luar biasa- di daerah bahu kiri dan kanan.

Lalu apa yang kami bertiga lakukan?

Kami harus merawat rumah, merawat papo, dan mengurus tugas masing-masing.

Berat? Pasti..Suntuk? Iya..

Sampai tiba saatnya, saya baru sadar.

"Lo dikasih kesempatan buat ngurus ayah lo sendiri. Seenggaknya ini kesempatan lo buat berbakti sama papo," -kalimat ini terucap dalam hati,sore hari.

Terus..iya juga. Saya baru sadar, ini saatnya saya harusnya bantu ayah saya, nggak ngedumel lagi, bantu hal-hal kecil yang ternyata bermakna buat beliau. Kadang, sedih juga ngeliat orang yang kita sayangi, terbaring gitu aja di tempat tidur, berjalan dengan tongkat, dan makannya nggak napsu.

Saya jadi dilemma sama diri sendiri. Betapa saya, yang masih remaja, mau main-main. Tapi ayah saya masih sakit.

Dan saya sadar...saya egois.

Segala dumel saya itu harusnya nggak patut saya lontarkan.

Saya jadi ingat, siapa yang selalu bangunin tiap pagi, yang nemenin belajar sampai pagi, yang nemenin nonton dunia lain sama top gear, yang jemput dulu pas sd waktu belum bisa naik angkot, yang menenangkan saya waktu saya nangis -takut ujian. Dan masih banyak lagi...

Sampai sore ini..waktu beliau meminta saya untuk memijat bahunya, lalu mengucapkan kata-kata, supaya saya sukses nantinya.

Hmm..kata-katanya menguatkan saya. Itu doanya buat saya. Sedangkan saya, seringkali lupa..lupa mendoakan yang terbaik buat beliau.

Saya sayang sama papo, saya berdoa semoga beliau cepat sembuh,

Dan untuk semua ayah di dunia,

Kalian Hebat!

Comments

Popular posts from this blog

Have You Ever : Miss The "Old" You ?

Halo semua, sebelumnya maafin ya, saya sering banget mengingkari mau nulis ini dan itu tapi pada akhirnya nggak kesampaian. Lazy is my biggest mistake, nowadays . Dan itu yang membatasi saya meraih target, dan segala sesuatu yang sudah saya rancang selama ini. Saat ini, saya sedang berlibur di rumah. Lumayanlah, satu minggu di rumah, bersama orang-orang yang amat-sangat saya sayangi dan kangeni (yang ketemunya paling kurang dari 30 hari dalam setahun). Ya, saya harus ngekost untuk kuliah di Semarang. Oke, masa-masa cengeng itu sudah berlalu dan nggak perlu saya ceritakan. Dan sempat juga ngunjungi makam Papo, ketemu ponakan yang sekarang sudah sangat gembul, namanya Adinda alias Adul, ketemu teman-teman SMA yang sekarang bertransformasi (kecuali Dela, masih lucu without effort , baik dan sabar nya tetep). Eh, I mean bertransformasinya cuma penampilan kok. Kemarin mereka (Naomi, Lisbeth, Yunita) berhasil sih bikin saya tertawa seharian. Di tempat umum. Mengenang masa-masa jaman SMA (l...

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Bali (Finally Posting) (Part 1)

Dan dengan penuh hoax, akhirnya saya ngepost juga uyeah. Dari yang tadinya dijanjikan seminggu, menjad sebulan haha. Yak. Jadi, here's my story. B A L I Berkah luar biasa dari Tuhan, ketika aku/gue/saya (masih bingung pakai apa) dapet jatah liburan ke Bali. Dalam rangka apa sih? Yak, jadi aku dan teman-teman tersayang (sebut saja Alem dan Andika) memutuskan ikut lomba Video di Scientific Atmosphere 9 yang diadakan oleh FK Universitas Udayana. Dan alhasil, ternyata lolos men! Dan gak cuma kami, tapi ada teman-teman lain yang maha hebat (sebut saja Dana, Yasinta, Hani, Dimas, Vano, Mona, Tasya, Dina, dan Nadira) bisa bermain ke sana dan menjelajahi Bali. Prolog Aku nggak akan bisa nikmatin perjalanan seminggu di Bali kalau nggak sama Alem dan Dikhet. Serius. Kenapa gitu? Karena akulah apa dibanding mereka yang jago. Alem jago semua desain dan videonya, dan Dikhet so creative kalau bikin kata-kata yang unik. Da aku mah apa cuma ngumpulin data doang. So, I am so grat...