Skip to main content

Have You Ever : Miss The "Old" You ?

Halo semua, sebelumnya maafin ya, saya sering banget mengingkari mau nulis ini dan itu tapi pada akhirnya nggak kesampaian. Lazy is my biggest mistake, nowadays. Dan itu yang membatasi saya meraih target, dan segala sesuatu yang sudah saya rancang selama ini.

Saat ini, saya sedang berlibur di rumah. Lumayanlah, satu minggu di rumah, bersama orang-orang yang amat-sangat saya sayangi dan kangeni (yang ketemunya paling kurang dari 30 hari dalam setahun). Ya, saya harus ngekost untuk kuliah di Semarang. Oke, masa-masa cengeng itu sudah berlalu dan nggak perlu saya ceritakan. Dan sempat juga ngunjungi makam Papo, ketemu ponakan yang sekarang sudah sangat gembul, namanya Adinda alias Adul, ketemu teman-teman SMA yang sekarang bertransformasi (kecuali Dela, masih lucu without effort, baik dan sabar nya tetep). Eh, I mean bertransformasinya cuma penampilan kok. Kemarin mereka (Naomi, Lisbeth, Yunita) berhasil sih bikin saya tertawa seharian. Di tempat umum. Mengenang masa-masa jaman SMA (lebih tepatnya bergosip dan bergibah ke segala penjuru.)

Well, everytime I went back home, having some special thinking and made some special promises to myself. Janji buat lebih rajin, buat lebih kurus (mostly failed), buat lebih bisa atur uang (hampir sama sering gagalnya buat lebih kurus karena penurunan jumlah uang di rekening berbanding lurus dengan jajan buat makan).

And why I made those promises? Karena semakin lama jauh dari rumah, terkadang membuat saya merasa semakin jauh dengan saya yang "dulu".

Dulu, ketika semua masih di Depok, ketika hari Senin ke Minggu tidak ada beda, ketika pergi sekolah dan pulang sekolah tidak ada makna, ketika libur ya sudah libur saja. Ya, hidup di rumah sebagai anak rumahan yang nggak pernah main-main ke luar, my life is as simple as that, as flat as tv flat nowadays. Nggak ada yang berubah, pasti bakal ketemu Papo, Mami, Mbak Dhita, temen-temen di sekolah, etc.

Saya yang dulu, nggak pernah mikir risiko. Setiap masalah saya bicarakan dengan (seringnya) ke ibu saya, makan tinggal makan, jajan ya sering jajan, uang jajan tinggal minta. Saya yang dulu cuma tahu belajar. Kenapa sekutubuku itu? Ya buat ngejar target, biar sampe kuliah seperti sekarang ini. Kalau belajar diingetin, tidur di kamar berAC, pokoknya...enak lah,

Kenyamanan itu saya bayar dengan usaha saya buat jadi anak baik-baik, belajar keras, mewujudkan apa yang saya cita-citakan.

and I made it. Nggak sia-sia, udah doa usaha, hidup baik-baik aja.

Sekarang?
Saya cukup bandel kalau boleh saya bilang. Saya suka tidur di kelas (mungkin karena di kelas berAC, dan di kamar saya kipas anginan), suka makan asal, nilai jelek, I even often to reconsidered am I gonna be a good doctor. See, can you see how desperate I am. I am happy, but it just hardly for me to find that girl who put me in here, who used to talk about what she thinks, who desperately love to read anything instead of being crazy of social media in this century.

Mungkin, saya kekurangan motivasi.
Mungkin, saya masih harus belajar menghadapi setiap tekanan yang ada.

Saya kangen dengan saya yang dulu bisa kuat dengan setiap target yang mau saya raih. Saya bisa melihat seperti apa saya di masa depan. Now everything seems blur. It gets blur everytime I try to talk about future.

Ibu saya selalu bilang, dia bangga. Bangga lihat anaknya berhasil menempuh perjalanan sejauh ini.

Tapi, saya nggak terlalu bangga. Hidup saya nggak mulus, dan saya nggak mau ngeluh tentang itu. Saya mengeluh terhadap diri saya yang belum bisa menemukan titik pencerahan untuk menapaki jalanan terjal. Kuliah bukan hal yang mudah, Bung. Kita tidak belajar secara akademik saja, namun belajar tentang bagaimana menjalani hidup di masa depan dan membentuk relasi dengan orang lain.

Sementara ini, yang harus saya lakukan mungkin adalah menjalaninya. Ya, jalani saja. Jalani setiap tugas. Jalani segala suka duka dalam hidup saya yang sekarang. Saya bersyukur masih bisa hidup, masih bisa tertawa, masih bisa merasakan berbagai emosi. Hanya, densitas emosinya terlalu besar, mungkin itu yang belum bisa saya handle di usia 21 ini.

Pernahkan anda mengalami hal yang sama?
Saya harap kalaupun pernah, kita bisa belajar bahwa meninggalkan zona nyaman berarti meninggalkan sesuatu yang lama, dan meraih sesuatu yang baru pula. Mungkin kesuksesan di mata saya masih terpaku pada standarisasi orang-orang di era yang maju in. Mungkin, saya masih harus mencari makna sukses dalam hidup itu sendiri.

But right now, I just miss the old me.


Oke, jadi sekian dulu kegalauan saya. Blog ini akan saya hidupkan. Sekedar menjadi tempat buat menumpahkan apa yang ada di pikiran tapi tetep belum bisa terucapkan.

with enormous love, to everyone who read it,
to everyone who still looking who they are.


S

Comments

Popular posts from this blog

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Drama Ngeklik Internsip (Part 2) : END!

I'm dying to get this announcement! Setelah beberapa minggu ini cukup hectic, saya baru kesampaian untuk menuliskan pengalaman ngeklik isip yang dag-dig-dug-dhuar itu. Karena sudah telat updatenya, jadi saya segera ceritakan saja ya, tentang jatuh bangun ngeklik isip. Note : sebetulnya agak hiperbola kalau dibilang drama. Tapi, ini adalah salah satu momen drama dalam hidup saya akhir-akhir ini. jadi, enjoy aja ya. kan kalo judulnya nggak drama, nanti kalian ngga mau baca lagi hahaha lol! Phase 1 : Survey! Sebulan atau dua bulan sebelum ngeklik, saya survey nih ya ke tempat ngeklik. Ngapain sih survey? Dasarnya adalah karena warnet ini jauh banget dari rumah saya, dan saya sangat asing dengan daerah ini. Kebetulan saya nganggur, saya memutuskan buat mengunjungi warnet-warnet ini. Dua warnet yang saya pilih adalah Mineski dan Supernova, dan dua-duanya berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Beneran buta daerah sana. Selain itu, saya juga sebenernya pengen tahu...

Euforia World Cup

Waa, saya lagi pengen nonton bola! Tepatnya lagi hot-hotnya nonton bola. Bukan berarti bola gelinding, terus gue pantengin sampai jereng, tapi nonton World Cup. Yup, ajang sepakbola terbesar yang diadain 4 tahun sekali ini ditunggu jutaan umat manusia, salah satunya gue. World Cup emang beda dari cup-cup yang lain. Kalau menurut gue, tayangan wajib nonton adalah Euro sama World Cup. Dan jagoan kali ini dan selamanya tak lain dan tidak bukan adalah G e r m a n y.. OK, sekarang bukan saatnya ngomongin siapa yang bakal juara atau siapa tim favorit. Tapi tentang euforianya, tentang ramenya ajang sepak bola ini, tentang hebohnya, dan tentang sukacitanya. Banyak banget orang-orang Afrika yang (maaf) lagi kesusahan, tapi bisa sejenak senang-senang gara-gara si world cup, yah pokoknya, World Cup membawa kebahagiaan. Gak sekedar pertarungan antara tim dari negara mana yang paling hebat. It gives some spirits, happiness, and laughs to all people. Personally, I'm admiring to Soccer. Not just ...