Skip to main content

Pernah Ingin Berhenti Dewasa?

EPada hakikatnya, manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa tumbuh dan berkembang.

Secara fisik, pertumbuhan akan berhenti di titik tertentu akibat proses biologis dalam tubuh yang memang diatur sedemikian rupa.

Dalam kalender hidup, kelak perkembangan pun akan berhenti atau senantiasa menurun ketika kita masuk ke kelompok geriatri.

Dan sekarang, aku ada di tahap itu. Tahap di mana, perkembangan adalah kuncinya, dan menjadi dewasa..adalah suatu tahap yang harus dijalani.

Ketika berusia 10-12 tahun, menjadi dewasa tampaknya seru dan hal yang paling ditakuti adalah tidak naik kelas.

Ketika remaja, menjadi dewasa berarti mengukir cita-cita. Mulai dari berpikir kira-kira mau jadi apa. Tapi, ya hanya sebatas cita-cita, belum memikirkan prospek kedepannya.

Ketika SMA akhir, tujuanku hanya satu. Bisa menjadi dokter. Aku nggak takut sedikitpun menghadapi dunia kedokteran yang seems impossible untuk aku jalani, karena nggak tahu basis untuk menjadi seorang dokter itu apa.

Sekarang, aku di titik menjadi seorang mahasiswa semester akhir, calon dek koas.

Dan yang kuhadapi bukan hanya masalah nilai, tapi bagaimana aku menjadi dewasa dalam menghadapi tiap tikungan dan jendalan dalam hidup aku ini. Dan yang paling parah : aku takut menjadi dewasa.

Kenapa?

Aku baru sadar, menjadi dewasa berarti titik di mana kita harus mampu mengambil suatu keputusan, dan mempertanggungjawabkannya. (Kalau kalian di usia seperti aku ini, pasti kerasa lah ya..). Kalau kamu sudah kuliah dokter, ya tanggung jawab dong jadi dokter yang handal. Kalau kamu kuliah teknik, hukum, ekonomi, dll., ya pertanggungjawabkan semuanya lah ya. Karena, kita bekerja bukan untuk uang semata, tapi pasti kesejahteraan orang lain juga.

Menjadi dewasa, harus lebih buka mata..
Mata diri, mata hati, mata jiwa. Kita menjadi manusia yang peka, legowo, mudah memaafkan, memandang dari berbagai perspektif untuk mengambil suatu keputusan.

Menjadi dewasa, harus selalu siap menghadapi perpisahan, dan persiapkan untuk bertemu dengan kelompok baru lagi. For this, I am not an expert.

Jadi dewasa, juga harus memanage emosinya. Sulit, jujur sulit. Entah berapa kali aku nangis hanya karena KKN berakhir. Tapi, memang manis kehidupannya, tapi masih ada tanggung jawab lain yang harus dikerjakan.

Menjadi dewasa...sulit.

Jujur, sudah berapa mimpi yang kupangkas agar aku yakin dengan pilihanku. Aku kadang berharap pada Tuhan untuk tertidur dan kembali di usia belia lagi. Tapi, jelas tidak mungkin.

Kadang ingin rasanya menjadi bocah lagi, karena menjadi dewasa, berat di hati..

Tapi apakah bisa kita lari dari proses ini?
Bisa!

Pepatah mengatakan, "Menjadi Tua adalah pasti. Namun dewasa adalah pilihan."

Boleh kok kita lari dari kenyataan yang ada. Tapi, apakah lari menyelesaikan semua?

Tentunya tidak.

Tapi kadang, ingin rasanya kabur sebentar. Diam sebentar. Seolah tidak memperdulikan dimensi waktu dan dinamika perubahannya.

Aku, yang ingin berhenti dewasa.....

Comments

Popular posts from this blog

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Drama Ngeklik Internsip (Part 2) : END!

I'm dying to get this announcement! Setelah beberapa minggu ini cukup hectic, saya baru kesampaian untuk menuliskan pengalaman ngeklik isip yang dag-dig-dug-dhuar itu. Karena sudah telat updatenya, jadi saya segera ceritakan saja ya, tentang jatuh bangun ngeklik isip. Note : sebetulnya agak hiperbola kalau dibilang drama. Tapi, ini adalah salah satu momen drama dalam hidup saya akhir-akhir ini. jadi, enjoy aja ya. kan kalo judulnya nggak drama, nanti kalian ngga mau baca lagi hahaha lol! Phase 1 : Survey! Sebulan atau dua bulan sebelum ngeklik, saya survey nih ya ke tempat ngeklik. Ngapain sih survey? Dasarnya adalah karena warnet ini jauh banget dari rumah saya, dan saya sangat asing dengan daerah ini. Kebetulan saya nganggur, saya memutuskan buat mengunjungi warnet-warnet ini. Dua warnet yang saya pilih adalah Mineski dan Supernova, dan dua-duanya berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Beneran buta daerah sana. Selain itu, saya juga sebenernya pengen tahu...

Euforia World Cup

Waa, saya lagi pengen nonton bola! Tepatnya lagi hot-hotnya nonton bola. Bukan berarti bola gelinding, terus gue pantengin sampai jereng, tapi nonton World Cup. Yup, ajang sepakbola terbesar yang diadain 4 tahun sekali ini ditunggu jutaan umat manusia, salah satunya gue. World Cup emang beda dari cup-cup yang lain. Kalau menurut gue, tayangan wajib nonton adalah Euro sama World Cup. Dan jagoan kali ini dan selamanya tak lain dan tidak bukan adalah G e r m a n y.. OK, sekarang bukan saatnya ngomongin siapa yang bakal juara atau siapa tim favorit. Tapi tentang euforianya, tentang ramenya ajang sepak bola ini, tentang hebohnya, dan tentang sukacitanya. Banyak banget orang-orang Afrika yang (maaf) lagi kesusahan, tapi bisa sejenak senang-senang gara-gara si world cup, yah pokoknya, World Cup membawa kebahagiaan. Gak sekedar pertarungan antara tim dari negara mana yang paling hebat. It gives some spirits, happiness, and laughs to all people. Personally, I'm admiring to Soccer. Not just ...