Skip to main content

Jadi Yang Terbaik



Terinspirasi dari seorang teman, yang entah darimana dia belajar tapi menurut saya ini keren.
Jadi yang Terbaik (curhatan manusia jomblo)
Terbaik, menjadi nomor satu. Nomor satu di segala bidang. Nomor satu di kelas. Nomor satu di lapangan. Nomor satu di pemilu.
Hmm, buat saya, kok rasanya kurang asik ya? Hahaha.
Menjadi yang terbaik, bukan jadi yang nomor satu. Karena nomor satu adalah juara. Juara dan menjadi yang terbaik adalah dua hal yang beti gitu deh. Beda-beda tipis. Ada yang bilang juara terbaik di segala bidang? Ya, secara kuantitatif (dan kualitatif) mungkin bisa. Secara subyektif? Belum tentu.
Menjadi yang terbaik itu, terserah kita nggak sih? Seiring bertambahnya usia, kita bisa semakin ngukur baik-buruknya diri kita, seberapa jauh kita bisa ngeforce diri kita sendiri, dan sampai di titik mana kita bisa berhenti.
Intinya, menjadi terbaik, versi kita sendiri.
Nah, saya mau numpang cerita doang nih.
Hmm, jadi sebenarnya mau curhat aja sih. Sejak dulu, sampai sekarang pacaran itu sudah biasa. Dan makin kesini (makin ke usia segini) saya melihat, wih banyak juga yang pacaran ya. Malahan, sekarang lagi rame banget banyak pasangan nikah muda. Dengan berbagai latar yang banyak banget kalau mau dijabarin satu-satu. Mulai dari ajaran agama sampai tuntutan keluarga atau orang tua yang pengen gendong cucu katanya sih.
Saya sendiri sih, dengan bangga mendeklarasikan diri sebagai jomblo bahagia karena sobat-sobat terdekat rata-rata emang masih jadi manusia tunggal yang kemana-mana sendiri. Tapi beberapa pun, juga berpasangan.
Masalah nggak buat saya? Ya, biasa aja sih. Tapi ya pengen juga. Siapa yang nggak mau punya pasangan? Karena pada titik tertentu, kita sadar nggak selamanya semua bisa dilakukan sama segerombolan orang. Kadang ada masanya kita ingin membicarakan sesuatu, dengan seseorang. Berdua aja. Membahas suatu persoalan, ngomongin hidup, ngomongin cita-cita, ngomongin rencana. Ya, talk about life, or talk about something easy that makes you comfortable. Yang bikin nyaman, untuk membicarakan segala sesuatu. Tidak lupa sensasi degdegan karena ada cinta diantara kedua manusia tersebut.
Sampai suatu hari saya cerita sama seorang teman saya. Saya menceritakan saya naksir X, tapi yasudah naksir aja. Nggak tau mau gimana lagi.
"Terus X nya gimana?" tanya teman saya itu. "Ya nggak gimana-gimana. Kan naksir doang akunya" (gini nih hidup kalo cuma taksir-taksiran. Menaksir doang, dikira-kira tapi nggak ada aksi)
Terus entah dapat wangsit apa, dia cerita. Kenapa kita harus nyari terus? Apalagi nyari yang terbaik. Kenapa kita nggak mantesin (memantaskan) diri dulu? Baru kita bisa jadi yang terbaik. Yang siap pada akhirnya berkomitmen untuk menjalani hubungan serius dengan seseorang.
Wagelasih. Ini dalam.
Iya juga ya. Bener juga ya.
Emangnya situ udah paling baik? Sok-sok mau menjalin hubungan padahal situ juga gak siap kan?
kasarannya begitu..
Mungkin kita cuma ingin doang. Ingin, tapi kita belum usaha buat jadi yang terbaik. Kalau memang mau komitmen untuk sayang, masa ga mau ngasih yang terbaik?
Saya sendiri belum mengusahakan yang terbaik dari saya, untuk orang lain. Nggak usah jauh-jauh, ke keluarga dulu aja saya masih bisa menilai kalau saya belum kasih yang terbaik. How I can give my best to that stranger that might not becoming stranger anymore, If I haven't given the best version of me yet to the people that I surely love, like my family or my friends?
Sekarang pertanyaannya : terus gimana jadi yang terbaik?
Kembali ke paragraf atas, saya juga masih belum bisa ngasih wejangan, karena saya masih mengupayakan diri saya sendiri
Dan, setiap orang punya kemampuannya masing-masing, yang kadang terukur kadang nggak. Yang kadang kelihatannya dia lebih lemah, ternyata bisa melakukan hal-hal berat yang di luar jangkauan kita.
But let me try with these five simple thoughts.
First, pray. Pray so you can find the relationship between you and God, and looking for the way that He might showed up to you
Second, be nice. Being nice, will lead you into good communities. And who knows?
Third, love yourself first before you love anyone else.
Fourth, be grateful for who you are and people around you
and the fifth?
Be Passion. Everyone has their own timeline, isn't it?
Saya ingat, waktu itu saya menonton film Ladybird yang pemeran utamanya adalah Saoirse Ronan. Waktu itu si Lady bird ini lagi milih-milih baju buat prom dance sama mamanya, Marion. Terus dia ngeluh sana-sini, bajunya ketat lah, dan sebagainya. Marion komentar, "Well, I suggested you not have that second helping of pasta" . Tambah ngamuk lah si Lady Bird.
Marion pengen banget ngebantuin anaknya ini, pengen supaya anaknya tampil cantik, dilihat semua orang pun juga gitu. She does what every moms do. Tapi, memang si Marion ini kritis juga sih. Sedangkan our Lady Bird, she's rebel enough. Her mom's commentar about this and that felt like stabs straight to her tiny heart and mostly hurts her feeling.
Sampai akhirnya dia memutuskan pakai dress yang berwarna pink, dan Marion bilang.. "Is it too pink?" BOOM.
Setelah berantem lalala lilili, percakapan mereka kurang lebih kayak gini :
Ladybird : I just wish, I wish that you liked me
Marion : Of course, I love you
Ladybird : But do you like me?
Marion : I want you to be the very best version of yourself that you can be
Meskipun ya, sebenernya si Marion ini pengen banget anaknya seenggaknya berubah lebih baik karena dia tahu pasti, she can do better.
Pesan moralnya : sayangi ibumu. Haha, enggak deng (eh, ya..beneran sayangi ibumu, tapi bukan itu maksud aku huahaha)
Be the very best version, of yourself. Apapun itu. Bukan juara. Karena, katanya sih kalau kita udah berusaha yang terbaik, auranya juga terpancar dengan baik. Katanya sih. Berdoa saja.
So, happy saturday Fellas
Semoga berfaedah. Untuk kalian-kalian yang bernasib sama seperti saya. Lambat tapi pasti, timbang memaksakan keadaan atau maksakan lini masa kita berjalan sesuai keinginan kita sendiri. Masih ada yang diatas yang nentuin nasib hehe.
-S

(Written in a condition where somehow I was bored. Bored to death so I write, about thoughts I think should be shared.)

Comments

Popular posts from this blog

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Have You Ever : Miss The "Old" You ?

Halo semua, sebelumnya maafin ya, saya sering banget mengingkari mau nulis ini dan itu tapi pada akhirnya nggak kesampaian. Lazy is my biggest mistake, nowadays . Dan itu yang membatasi saya meraih target, dan segala sesuatu yang sudah saya rancang selama ini. Saat ini, saya sedang berlibur di rumah. Lumayanlah, satu minggu di rumah, bersama orang-orang yang amat-sangat saya sayangi dan kangeni (yang ketemunya paling kurang dari 30 hari dalam setahun). Ya, saya harus ngekost untuk kuliah di Semarang. Oke, masa-masa cengeng itu sudah berlalu dan nggak perlu saya ceritakan. Dan sempat juga ngunjungi makam Papo, ketemu ponakan yang sekarang sudah sangat gembul, namanya Adinda alias Adul, ketemu teman-teman SMA yang sekarang bertransformasi (kecuali Dela, masih lucu without effort , baik dan sabar nya tetep). Eh, I mean bertransformasinya cuma penampilan kok. Kemarin mereka (Naomi, Lisbeth, Yunita) berhasil sih bikin saya tertawa seharian. Di tempat umum. Mengenang masa-masa jaman SMA (l...

HOLIDAY BUDDIES : First Abroad Trip (Part 1 : Let’s Prepare This and That!)

Halo, semuanya! Seperti janji yang sudah-sudah, saya akan menceritakan kisah perjalanan saya pertama kali ke luar negeri bersama sobat-sobat. Trip kali ini memakan waktu 11-12 hari. Kenapa lama? Karena kebetulan kita main ke 2 negara. Apakah low budget ? Simpan sejenak kalkulatormu, kalau kami bisa, kenapa kalian enggak? Semua bisa karena menabung dan usaha. Jadi, kita bicarakan biaya nanti. Akan lebih sistematis kalau seandainya kita membahas satu-persatu mulai dari persiapan. THINGS YOU HAVE TO DO! 1. Tentukan Destinasi Penting banget karena ini adalah inti dari segalanya. Kamu mau kemana? Karena ini adalah liburan pertama kami, jadi kami memutuskan untuk ke negara lain yang tidak butuh visa namun harganya juga bersahabat. Pilihan jatuh ke Thailand dan Malaysia. Kami mencoret Singapura karena masalah waktu dan biaya. Kurs Dolar Singapura kurang bersahabat, bung! Selain itu, perjalanan bisa sampai 15-16 hari mungkin, kurang efektif bagi kami. 2.  ...