Halo, selamat hari Minggu!
Semangaaaat, bentar lagi libur kan ya. Seriusan tahun ini puasanya kerasa cepet banget (ini kadang jadi ikutan puasa ec. temen-temen saya pada puasa semua, tak ada teman makan siang. Jadi mundur semua makannya pas maghrib). Kayaknya baru kemarin ngucapin selamat puasa, sebentar lagi udah mau lebaran aja.
Sebenarnya mau nulis ini dari minggu lalu, tapi terlalu banyak alasan halang merintang (bahasa planet, sorry) buat nulis. Menunggu waktu luang biar nulisnya pakai penghayatan.
Jadi, seminggu lalu, kurang lebih tepat seminggu lalu, saya merasa ada yang kurang beres dengan diri saya. Mungkin, efek PMS / premenstrual syndrome, mungkin juga yang lainnya karena saya ngerasa PMS nggak gini-gini amat. Saya abaikan tugas, bikin kasus, dll. Di kamar cuma tidur, minum. Udah males buat makan. Syukurlah ada sobat saya, Cancan yang ngajakin ke gereja. Seenggaknya jadi nggak mager buat gereja. Pagi itu, sekitar jam 8an, dia menjemput saya di ujung gang. Bersamaan saya jalan dan sampai di mobil kami melihat tiba-tiba ada seorang bapak teriak-teriak "Blewaaah..blewaaah..". Ternyata beliau berjualan blewah (yaiyalah) tapi, dagangannya banyak banget. Bapak tadi mengangkut dua keranjang penuh blewah dengan tangannya dan satu yang masih penuh juga ada di atas kepala. Iya, kayak Ibu-ibu Bali kalau bawa sesajian itu. Tapi beliau sampai miring-miring, kelihatan banget muskulus sternocleidomastoideusnya kontraksi gitu. Kasian serius ngelihatnya. Tapi, ya gimana ya..mau berangkat juga. Akhirnya kita cuma ngebatin di mobil. "Duh pak, semoga Tuhan memberkati, dagangannya laku" kata Cancan gitu sebelum dia nyetir. Aku cuma mengamini dalam hati.
"Kadang ngelihat kayak gitu, bikin kita tambah bersyukur nggak sih, Stel?" Cancan nanya. Saya yang lagi agak blank , mikir..iya juga ya. Di pagi yang cerah, puasa, masih harus keliling bawa dagangan seberat itu. Tapi, saat itu saya belum terlalu mikirin si bapak tadi. Perjalanan kami lanjutkan, lalu ke gereja, dan akhirnya bertemu teman-teman lainnya.
Hari minggu itu juga, tadinya saya memang berencana mau nemenin dia untuk home visite kasbes anak (Jadi, kalau buat kasus besar di stase anak, kadang kami mendapat arahan untuk home visite ke rumah pasien, untuk memperdalam anamnesis sama perkembangan apa saja yang didapatkan setelah perawatan di rumah sakit). Saya salut sama Cancan, di fase end stage seperti ini, membuat kasbes itu butuh perjuangan. Perjuangan mengatasi kemageran yang...yang rasanya nempel dan nggak mau ilang.neri
Tapi, karena lagi flu dan batuk, takut akunya ambruk (cie, baik ya diperhatiin) dan nularin pasien (ini alasan utama sih), jadinya kata Cancan ngga usah ikut visite tapi nanti sore aja lanjut ngumpul bikin kasbes (Saya harus bikin kasbes mata, dengan progress saat itu hanya 0.5%).
Sorenya, cancan kembali menjemput saya buat ngerjain kasbes. Karena saya suntuk di kamar, kayaknya dia paham saya butuh udara luar. Terus, begitu saya sampai di mobil dia langsung cerita tentang visitenya. "Hebat lho stel, di keadaan anaknya cerebral palsy gitu, mereka masih bisa kayak nerimo (menerima) keadaan anaknya, dan masih bisa bercanda pula. Tuhkan, aku ngerasa hal-hal kayak gitu, bikin nambah bersyukur aja. Makasih Tuhan" gitu kata dia.
*Cerebral Palsy adalah keadaan di mana terjadi gangguan saat pertumbuhan otak, bisa di fase prenatal, natal, atau post natal. Di mana anak pada umumnya akan mengalami gangguan Global Developmental Delay (Keterlambatan dua aspek atau lebih dari sektor motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan persona sosial). Selain itu didapatkan kelainan lainnya seperti strabismus, atau adanya kejang. Lengkapnya baca sendiri ya hehe.
Sore itu, saya membatin lagi. Dan kepikiran buat menulis ini. Ternyata, di sekitar kita kalau kita mau lebih melek lagi, banyak banget yang masih berkekurangan. Ketika kita belajar untuk menjadi dokter, kita semakin menyadari bahwa mereka yang berkekurangan adalah mereka yang rentan sakit, yang perkembangan penyakitnya kadang lebih parah dan lebih buruk akibat terlambat di bawa ke rumah sakit atau nggak paham tentang penyakitnya sehingga sering dibawa ke alternatif lain. Kenyataan bahwa secara fisik mereka rentan sekali akan berbagai infeksi, trauma, keganasan, bahkan kelainan kongenital seperti anak tadi. Tapi, biaya perawatan (oke, ada BPJS. Tapi, perawatan nggak cuma itu. Biaya transpor dari rumah ke rumah sakit, belum kalau yang sakit adalah tulang punggung keluarga, atau biaya lainnya di luar perawatan klinis) juga nggak sedikit.
Tapi, mereka masih bisa tetap berdoa, tetap ngejagain yang sakit, di tengah kondisi pas-pasan, atau keadaan persaingan di jaman kayak gini. Tetap bisa bercanda. Bahwa kebahagiaan itu emang harus diusahakan, yang penting hari itu bisa makan, sudah merupakan bentuk syukur tersendiri bagi mereka.
Saya kembali ke kamar, membatin lagi. Saya bukan dari keluarga yang tajirnya turah-turah. Tapi ya itu, keluarga saya sama-sama berjuang memenuhi kebutuhan saya untuk kuliah disini. Jadi kalau saya bisa beli arsipan, masih punya laptop buat nugas, masih bisa nonton bioskop kalau bosen, masih bisa ke gereja tiap Minggu, masih bisa jajan atau makan dari uang yang didapat tiap bulan tanpa saya harus ngapa-ngapain..saya merasa hina kalau merasa hidup saya kosong, berkekurangan, dan hampa.
Kadang, yang ada di sekitar kita adalah pembelajaran terbaik untuk menyadari bahwa hidup itu indah, dan berharga, dan patut diperjuangkan, entah bagaimana nantinya. Saya bersyukur, untuk teman yang masih mengingatkan betapa hidup kita termasuk beruntung, dan jangan lupa doakan (kalau bisa bantu) orang-orang di sekitar kita. Nggak usah ribet dan muluk-muluk, apapun yang bisa kita bantu buat orang lain, kita bantu.
Udah segitu aja curhatan pagi ini. Semoga adem ayem buat yang baca. Semoga membuat kita makin bersyukur, buat hidup yang indah ini.
- S
(ditulis pas baru bangun, sambil dengerin lagu-lagu dari Playlist Spotify. sudah sah liburan)
Comments
Post a Comment