Skip to main content

Akara (Rupa) : Bagian II

Mimpi adalah bunga tidur
Di dalam mimpi, segalanya terlampaui termasuk imajinasi
Di dalam mimpi, yang berpulang bisa kembali
Di dalam mimpi, aku bisa melihatnya lagi..dan lagi..sampai kenyataan menebasku dan kembali ke bumi tempatku berpijak

-------------------------------------------------------------------------

Aku memimpikannya barusan. Hanya sekelebat. Aku bahkan hampir lupa kalau itu dirinya, kalau saja aku tidak sedang melihat kumpulan foto-foto lama itu. 

Aku tersenyum pada diriku, tersenyum miris karena sebenarnya, bagaimana aku bisa melupakan sosoknya yang dikuncir itu? Dengan seragam khas sekolah kami. Tentu saja khas semenjak hanya ada satu sekolah di daerah itu.

Seiring tanganku membalik lembaran foto, satu-persatu, aku kembali menyusun untaian memori yang tersisa tentang dirinya.

Alec
-------------------------------------------------------------------------

Dasar! SIAL!

Hari terburuk sepanjang aku berada di Roxa. Rasanya lebih buruk dibanding aku dipukuli oleh Pamanku yang temperamen itu. Sekarang bagaimana aku harus mengenang ayahku? Dengan foto?

Tidak ada lagi. Kosong.

Semua karena gadis berkuncir itu. Siapa sih dia? Gadis kaya bodoh, tidak tahu apa-apa. Kenapa juga dia ingin tahu tempat naunganku. Tidakkah ia mengerti privasi? Atau memang tabiatnya mencampuri urusan orang?

Besok, akan kuminta ganti rugi. Entah bagaimana caranya.

Leah
-------------------------------------------------------------------------

Kakiku terkilir, bagus. Dan dengan pandainya aku juga mencari masalah dengan seniorku. Kenapa aku sesial ini, ya Tuhan?

Dengan langkah perlahan, ditambah aku harus menyeret kaki kananku yang dapat kupastikan sejam lagi akan bengkak, aku mencoba melihat ke tempat kejadian perkara tempat kamera itu jatuh. Jujur begitu aku tiba, bentuknya sudah tidak seperti kamera (tentu saja, bodoh). Jadi kuputuskan untuk mengambil semua remahan kamera analog tua itu. Aku akan segera ke toko untuk mencari kamera yang serupa. Atau kalau bisa, lebih bagus. Perkara kaki? Nanti sajalah. Aku percaya jika kukabari Greta, pengasuhku sejak aku bayi atau Greg, kepala pelayan di rumahku, pasti mereka akan segera menyuruhku ke rumah sakit seolah kasusnya bukan terkilir melainkan infeksi serius dan lainnya. Masalah kamera ini harus kuselesaikan dahulu. Kuhubungi Don untuk segera menjemputku dan membantuku mencari kamera ini. Aku buta dalam banyak hal, salah satunya kamera.

"Miss, kaki anda? Anda terjatuh?" Don berusaha memapahku saat akan memasuki mobil.

"Don, kita ke toko elektronik atau kamera untuk mencari ini, bisa kan?" kutunjukkan "remahan" kamera itu kepada Don. Ekspreksi Don tertangkap jelas, bahwa ia bingung setengah mati.

"Maaf, Miss. Tapi kalau di toko, sepertinya kamera analog tua seperti ini sudah tidak ada yang jual" Don menjelaskan perlahan. 

Aku panik.

"Hmm, begini. Mengapa kita tidak membeli yang model terbaru?" tanya Don.

"Masalahnya aku baru saja merusakkan kamera milik...seniorku. Aku baru saja menjatuhkannya dari lantai tiga. Apa kita perlu ke Aro untuk membeli yang baru?"

"Saya tidak masalah, Miss. Tapi Nyonya Greta, Tuan Greg? Saya bisa dipecat, Miss kalau Miss pulang terlalu larut" ujar Don khawatir.

Aku langsung mengirimkan hologram pada Greta. Biar jika ia kesal, setidaknya ia bisa melemparkan novelnya ke arah hologramku. Segera setelah terkirim kumatikan perangkatku agar Greta atau Greg tidak meneleponku. Setelah pesan terkirim, aku langsung menuju ke Aro. Aku hampir lupa dengan kondisi pergelangan kakiku yang mulai membengkak. Tapi, ekspresi wajah Alec yang kubayangkan dari tadi. Entah apakah besok akan ada kamera lagi yang akan dibanting dari lantai tiga, atau dimulainya percakapan antara aku dan dia.

Alec
-------------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya, Drosel memberikan sebuah kotak kepadaku. "Apa ini?" tanyaku penasaran.

"Dari anak berkuncir kuda yang kemarin. Entah apa yang ia perbuat dan apa yang kau katakan, tapi aku tidak pernah melihat seorang anak sepucat itu, selain masuk ke kelas matematika Mr. Stevenson" ujar Drosel, panjang lebar.

Rasanya ingin kubanting kotak itu.

"Hei, kau seperti mau membunuh orang saja. Ia susah payah mencarimu dengan jalan terpincang," Drosel membelanya.

"Biar ia rasakan ganjarannya" ujarku ketus.

Aku segera meminta kunci. Kurang dari beberapa saat lagi aku akan meninggalkan kota ini. Setelah kejadian kemarin, rasanya tidak ada hal, satupun, bahkan kenangan,. yang bisa menahanku di sini.

Aku segera duduk di kursi malas (yang sengaja kubawa dari rumah diam-diam) dan membuka kotak dari wanita itu.

Sial.

Kamera baru.

Yang iklannya membuatku membelalak setiap kulihat di jalan.

Sial. Rasanya aku seperti berhutang.

Masalahnya, kamera itu benar-benar baru, serial terbaru.

Walaupun untuk sebagian pecinta analog, kamera ini ibarat kamera mainan karena dengan kamera ini, siapapun mampu menghasilkan gambar dengan resolusi terbaik, tapi tetap saja, memberikan kepuasan bagi si pemakai karena mampu menangkap gambar terbaik. Semuanya auto. Ia hanya perlu mengenali suara pemiliknya, menjadikan segala sesuatu bersifat personal.

Sial, sekarang aku yang harus berterima kasih.

Kuputuskan untuk segera bertemu dengannya. Bagaimanapun juga, ia sudah mencoba menggantikan walaupun..

Ya sudahlah.

Leah
-------------------------------------------------------------------------

Seharian aku tidak bisa kemana-mana. Semalam aku habis, sehabis-habisnya dibantai oleh Greta. Kata Lula, salah seorang pelayanku menceritakan kalau hologramku nyata, pasti sudah babak belur. Greta boleh berumur 50 tahun, lebih bahkan. Tapi tenaganya tidak pernah habis. Sedangkan kembarannya, Greg, ia lebih tenang dan bijak. Keduanya sudah kuanggap ayah ibuku sendiri. Mereka pun tampaknha begitu. Tapi tetap saja, menurutku mereka terlalu berlebihan. Lebih banyak daftar "yang tidak boleh" dibandingkan "yang boleh".

"Miss, kelak kau akan mengerti. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri. Kau akan mewarisi kekayaan Tuan dan Nyonya Goldenberg. Kau anak tunggal. Kau harus bisa menjaga dirimu dari saudara-saudaramu, paman bibi, lalu...." 

"Miss, kau harus belajar bersikap selayaknya putri dari keluarga Goldenberg"

"Miss, kita akan berlatih ..."

Suara Greta terngiang selalu di kepalaku. Di saat aku sedang termangu menatap jendela, Tori memanggilku, setengah berteriak dan terengah-engah seperti berlari menghampiri mejaku.

"Leah! Leah Goldenberg! Alec...Alec Stewart mencarimu"

Alec. Alec yang itu?

Aku menoleh ke arah pintu kelas dan kulihat dia ke sana. Aku agak bengong sejenak, takut sebenarnya. Apakah dia akan marah lagi seperti waktu itu.

Aku memberikan isyarat aku yang akan menghampirinya.

-------------------------------------------------------------------------

"Humm..kakimu?"

"Tidak apa-apa. Sudah baikan."

"Sudah ke dokter?"

"Pengasuhku yang membalutnya. Tapi tidak apa, hanya terkilir."

"Humm.. terima kasih untuk kameranya."

"Humm.. sebenarnya aku yang mau minta maaf, Alec. Aku sama sekali kaget waktu itu. Dan ceroboh. Dan aku tidak tahu kamera sama sekali, jadi hanya ini yang bisa kuberikan".

Alec tertawa. Leah membelalak terkejut, tapi ia berusaha menutupinya.

"Hanya ini? Kau gila? Butuh 10 tahun kerja serabutan untuk mendapatkan kamera ini"

Lalu mereka tertawa

"Capture" seru Alec. Lalu kamera itu berhasil menangkap momen itu.

"Wow" Leah terkejut, lagi.

"Kusimpan untuk kenang-kenangan. Hum, kecuali kau mau aku menghapusnya..?"

"Bebas, sepanjang wajahku tidak seperti belalang"

"Oh, kau benar" Alec memeriksa fotonya. "Tajam sekali, seperti belalang hijau"

Wajah Leah bersemu merah. Namun ia tahu, itu adalah salah satu hari terbahagia dalam hidupnya. 

Bagi Alec, ia merasa lega. Tidak ada hutang kemarahan dalam hatinya. Segalanya baik-baik saja. Paling tidak, sampai saat ini.

-------------------------------------------------------------------------

Alec memandangi foto itu lama sekali. Gadis dengan rambut terikat, sedang tertawa lepas seolah tidak ada beban sama sekali. Ditemani sedikit bayangan sinar di lorong sekolah. 

Matanya terpenjam. Di waktu yang kurang lebih sama, tujuh belas tahun yang lalu, ia mendapati dirinya tertawa bersama Leah.

"Seperti mimpi, seperti baru kemarin"
ujarnya pelan.

(to be continued)


Comments

Popular posts from this blog

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Drama Ngeklik Internsip (Part 2) : END!

I'm dying to get this announcement! Setelah beberapa minggu ini cukup hectic, saya baru kesampaian untuk menuliskan pengalaman ngeklik isip yang dag-dig-dug-dhuar itu. Karena sudah telat updatenya, jadi saya segera ceritakan saja ya, tentang jatuh bangun ngeklik isip. Note : sebetulnya agak hiperbola kalau dibilang drama. Tapi, ini adalah salah satu momen drama dalam hidup saya akhir-akhir ini. jadi, enjoy aja ya. kan kalo judulnya nggak drama, nanti kalian ngga mau baca lagi hahaha lol! Phase 1 : Survey! Sebulan atau dua bulan sebelum ngeklik, saya survey nih ya ke tempat ngeklik. Ngapain sih survey? Dasarnya adalah karena warnet ini jauh banget dari rumah saya, dan saya sangat asing dengan daerah ini. Kebetulan saya nganggur, saya memutuskan buat mengunjungi warnet-warnet ini. Dua warnet yang saya pilih adalah Mineski dan Supernova, dan dua-duanya berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Beneran buta daerah sana. Selain itu, saya juga sebenernya pengen tahu...

Euforia World Cup

Waa, saya lagi pengen nonton bola! Tepatnya lagi hot-hotnya nonton bola. Bukan berarti bola gelinding, terus gue pantengin sampai jereng, tapi nonton World Cup. Yup, ajang sepakbola terbesar yang diadain 4 tahun sekali ini ditunggu jutaan umat manusia, salah satunya gue. World Cup emang beda dari cup-cup yang lain. Kalau menurut gue, tayangan wajib nonton adalah Euro sama World Cup. Dan jagoan kali ini dan selamanya tak lain dan tidak bukan adalah G e r m a n y.. OK, sekarang bukan saatnya ngomongin siapa yang bakal juara atau siapa tim favorit. Tapi tentang euforianya, tentang ramenya ajang sepak bola ini, tentang hebohnya, dan tentang sukacitanya. Banyak banget orang-orang Afrika yang (maaf) lagi kesusahan, tapi bisa sejenak senang-senang gara-gara si world cup, yah pokoknya, World Cup membawa kebahagiaan. Gak sekedar pertarungan antara tim dari negara mana yang paling hebat. It gives some spirits, happiness, and laughs to all people. Personally, I'm admiring to Soccer. Not just ...