Alkisah, ada dua insan bernama si Sendok Emas dan Si Jelata. Mereka berdua lahir di waktu yang sama, dengan jam, detik, dan menit yang sama, kala fajar menyingsing. Takdir mempertemukan mereka entah bagaimana. Walaupun berada di tanah yang sama, Sendok Emas tinggal di istananya, dan Jelata tinggal di sebuah rumah kecil yang dibangun Sendok Emas, suatu tempat di pojokan. "Kamu, sahabatku. Jadi kita harus tinggal berdekatan" ujar Sendok Emas suatu hari. Jelata hanya mengangguk. "Tapi aku tidak akan pernah memanggilmu dengan sebutan Tuan, seperti para pelayanmu," Sendok Emas bingung, "Kenapa? Sejak lahir semua orang memanggilku Tuan Muda. Kok kau berani memanggil namaku?" Jelata tersenyum. "Hai Sendok Emas, kau bilang aku sahabatmu, bukan? Seorang sahabat memanggil satu dengan yang lain dengan nama. Kita sederajat, bung. Kaya tidak membuatmu lebih tinggi dariku." Sendok Emas menyetujuinya. Sejak hari itu, ia berjanji untuk selalu mendengarkan Jelata...
halaman seorang stella. mudah ditemukan di keramaian dengan badan besar, kacamata, dan rambut keritingnya. having this page since 2010, and too many stories to tell. better read them by yourself. but first of all, thanks for whoever you are that inspire me so much. you, yes you!