Kenapa buku ini menarik perhatian? Karena dari judulnya yang menohok (dalam artian baik) dan mengingatkan saya :
"Dokter, Teruslah Belajar. Refleksi 70 Tahun Perjalanan"
Dari judul buku ini, teringat bahwa selamanya profesi Kedokteran adalah profesi yang menuntut kita untuk belajar setiap hari. Ilmunya selalu berkembang, kalau tidak mau belajar, maka layaknya penumpang yang tertinggal di stasiun. Kita tidak akan kemana-mana, dan akan hilang manfaatnya. Dalam judul itu pula, tertulis "70 tahun perjalanan". Bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap berkarya, untuk tetap belajar, untuk tetap mencari tahu bila tidak tahu. Demikianlah refleksi saya saat pertama kali bertatap muka dengan cover buku ini.
Bukunya ringkas, sehingga saya jadikan bahan selingan untuk saya baca di kereta atau sebelum tidur. Buku ini diawali dengan judul yang sama dengan judul bukunya. "Dokter, teruslah belajar" sebuah arahan, wejangan, tapi juga ajakan yang bermakna. Bahwa buat Prof. Zubairi, yang menginjak 70 tahun perjalanan saja masih mau belajar, apalah saya yang baru saja melewati quarter life ini. Setiap bab dirangkum singkat lengkap dengan referensinya. Materi yang disuguhkan dalam bab-bab selanjutnya sangat relatable dalam kehidupan praktik sehari-hari. Antara lain mengenai komunikasi dokter dan pasien (dengan kemajuan dunia teknologi, informasi, dan komunikasi yang semakin mudah dijangkau untuk awam, maka pasien-pasien akan semakin aktif, semakin pintar dalam mengakses ilmu kesehatan), tantangan bagaimana dokter harus membantu menjelaskan tentang penyakit secara lugas, efektif, namun lengkap karena pasien saat ini bukanlah subyek di bawah dokter melainkan sejajar dan berhak untuk mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya, pada kondisi mental dan fisiknya. Kemudian dengan perkembangan telemedicine, kita selaku dokter diajak untuk bersahabat dengan teknologi, yang memungkinkan komunikasi, relasi dokter dan pasien tidak terhalang jarak. Berbagai kemajuan ini, yang mendorong seorang dokter untuk tidak boleh berhenti belajar. Melihat perkembangan dunia kesehatan terkait terapeutik maupun diagnostik yang berbasis bukti, alias evidence based medicine, tidak sekedar testimonial 1-2 orang saja. Seorang dokter, harus berpikir kritis, namun tetap rendah hati dan membumi karena begitu banyaknya penelitian, begitu banyaknya informasi, dan begitu banyaknya inovasi yang terjadi tidak hanya hitungan bulan, namun hitungan hari.
Prof. Zubairi, selaku konsultan hematologi-onkologi yang juga pertama kali meneliti HIV AIDS di Indonesia, melalui refleksinya juga turut menuliskan bahwa para pengidap HIV AIDS tidak sepatutnya mendapatkan diskriminasi, terlebih dengan adanya perkembangan terapi yang membantu para penderita untuk hidup senormal mungkin, tidak ada bedanya antara pasien dan orang biasa. Dengan meminimalisir diskriminasi, kita justru membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, dan will to survive serta mampu menjalani hidup dan aktivitas seperti biasa. Singkat kata, buku ini menurut saya cocok tidak hanya untuk tenaga kesehatan, namun patut pula dibaca oleh awam, untuk memperluas perspektif dan melihat dari kacamata Prof. Zubairi, tentang bagaimana hidup berdampingan, menghapuskan diskriminasi, dan bersama-sama membangun lingkungan yang kooperatif dan kondusif dalam kehidupan sehari-hari.
Sampai pada chapter terakhir, epilog dari Prof. Zubairi dalam ucapan terima kasih yang dituliskan. Pada bagian samping, tertulis :"Menjadi dokter adalah sebuah anugerah: anugerah untuk melayani kemanusiaan. Maka seharusnya kita yang diberi kesempatan ini menjalankan tugas dengan sepenuh hati, karena ini adalah panggilan yang mulia."
Jadi, menjadi dokter itu..setelah saya berkecimpung dalam praktik sehari-hari, ternyata pekerjaan ini bukan sekedar prestise, bukan tentang jas putih dan stetoskop, bukan sekedar titel. Bangga memang, tapi ternyata menjadi dokter adalah kesempatan. Kesempatan untuk belajar, menjalankan tugas, bukan untuk diri sendiri, tapi lebih untuk orang lain. Dokter apapun, umum ataupun spesialis, bergerak di bidang struktural ataupun fungsional, semuanya bekerja notabene untuk orang lain walau dengan cara yang lain dan berbeda-beda. Dengan pendekatan yang berbeda. Tapi prinsipnya sama, dengan dasar cinta kasih berusaha meningkatkan manfaat untuk dirinya sendiri.
Long story short, buku ini menjadi refleksi bagi perjalanan saya yang masih baby steps ini. Ibaratnya, para senior yang sudah berperan banyak dengan ilmu melimpah masih merasa kurang, masih terus belajar, masih terus menimba ilmu. Walaupun realitanya malas menerpa, mager menerpa, kadang rasanya mau menyerah saja karena begitu banyaknya hal yang tidak diketahui dan tidak dipahami dengan baik, atau merasa underdog di kalangan teman-teman yang berani dan pintar-pintar.
Terima kasih, Prof. Zubairi atas asupannya yang boleh kami baca, tanpa ada kesan mendikte, lebih seperti eyang kepada cucunya, ayah kepada anaknya. Semoga Prof. Zubairi senantiasa sehat dan bahagia, dan tentunya semakin disayang oleh pasien dan koleganya.
- Stella


Comments
Post a Comment