Skip to main content

Intermezzo #3 : Life Itself

Life Itself (other poster version)



Instead of having bedrest since I had a double infection (typhoid + varicella) or doing other more important kinds of stuff like mengisi borang isip, saya kembali menulis Intermezzo. Dan betul adanya kalau Intermezzo #2 terakhir ditulis sebulan lalu. Jadi, di sela-sela kesibukan saya sebagai isip (padahal percayalah kalau waktu luang saya >>>>> dibandingkan waktu kerja saya). Lagipula menurut blogger favorit saya, Bang Ariev Rahman (sila di klik untuk menelusuri blognya yang ciamik), menulis itu kalau nggak dijadikan kebiasaan (dan seperti kata orang bijak pada umumnya, bisa karena terbiasa), jelas nggak akan berkembang huehehe. Oleh karena itu, saudara sebangsa dan se-Tanah Air, izinkan saya menyampaikan prolog yang tidak penting ini, dan apabila kalian bosan, silahkan skip ke paragraf berikutnya..

Karena disini, saya baru mulai bercerita..

Di suatu siang bolong, tetiba ibu saya iseng memindahkan saluran TBV ke HBO, lagi-lagi saya lupa itu HBO yang biasa, signature, ato movies. Intinya di film ini ada Antonio Banderas yang sudah tua tapi masih tampan. Kami berdua akhirnya tertarik nonton, karena mikir, "Oh, ini pasti film barunya Antonio Banderas,". Dan walaupun saat itu saya menonton dari separuh, atau tiga perempat akhir, saya langsung yakin, ini film pasti terkenal dan hits. Cuma saya aja yang nggak ngeh.

Oke, jadi berikut saya ceritakan kenapa film ini menjadi salah satu film favorit saya.

Pertama, mungkin karena ini mengangkat cerita tentang kehidupan, ya si Life Itself itu sendiri. Ternyata hidup itu sekompleks itu. Kompleks banget, seperti pemetaan atau koding asam amino dan segala metabolisme molekuler dalam tubuh kita. Sama-sama kompleks, sama-sama sulit saya pahami. Memang buatan Tuhan itu, rumit, dan sulit ditebak. Tapi pada akhirnya semua terikat oleh benang merah. Kalau benang merah yang saya tangkep adalah : Hidup kita sama orang lain entah siapapun itu secara nggak langsung terhubung. Kalau merasa nggak terhubung sekarang, ya entar, atau kelak, atau mungkin kita nggak pernah tahu. Tapi, ada ikatan tersembunyi yang kita nggak tahu, dan ikatan itu yang membawa hidup kita naik-turun dan dinamis. Ya, intinya begitu.

Kedua, film ini menurut saya super aneh dengan segala tragedinya. Tapi di sini digambarin, mana yang akhirnya menyerah, mana yang akhirnya tetap lanjut. Mana yang mau berjuang, dan mana yang akhirnya pergi. Pada akhirnya, kita nggak bisa menyalahkan siapa-siapa. Karena manusia punya berbagai sifat dan watak yang berbeda dalam menjalani hidupnya masing-masing.

Film ini dibagi ke dalam lima chapter. Chapter pertama adalah The Hero. Kenapa dibilang The Hero, karena mungkin ini prolog gimana cerita dimulai. Dinarasikan oleh Samuel L. Jackson dan awalnya dibikin komedi. Tapi intinya ini menceritakan tentang Will Dempsey (Oscar Isaac), yang merasa kehilangan setelah mendiang istrinya, Abby (Olivia Wilde) akibat kecelakaan di mana saat itu Abby tengah mengandung (perkiraan sih 37-38 minggu, sudah aterm sebenarnya). Will di sini diajak flashback oleh terapisnya, tentang Abby gimana dan sebagainya. Lalu diceritakanlah kisah perjalanan dari gimana orang tua Abby saling bertemu, Abby lahir, lalu tragedi yang dialami Abby, lalu Abby yang menemukan teori tentang Life Itself  untuk tesisnya sebagai anak English Lit, sampai akhirnya Will ngajak Abby nikah. Saya lupa akhirnya mereka belom nikah deng, tapi Abby sudah kadung hamidun. Dari situ Abby dikenalin sama orang tua Will, dan tetiba muncullah tragedi yang lainnya, yakni Abby mengalami kecelakaan, tapi bayinya selamat. Di sini Will trauma berat. Will nggak sanggup ngadepin bayinya, dan akhirnya memilih untuk bunuh diri. Tragis kan?

Iya, ini tragis untuk kisah chapter kedua, yang menceritakan tentang Dylan Dempsey. Dylan ini, adalah anak dari Will dan Abby yang selamat. Ia kemudian diasuh oleh kakak neneknya, yakni Linda dan Irwin Dempsey. Dylan ini, menurut saya adalah tokoh yang paling tough karena dia yang ngalamin semua tragedinya itu. Dia lahir saat ibunya wafat, ayahnya pada akhirnya bunuh diri saat dia berusia 6 bulan. Nggak lama dia juga ditinggalkan nenek dan anjing kesayangannya. Jadi pada akhirnya, dia merasa kayak yaudah semuanya pada akhirnya meninggalkan dia dan nggak lain dan nggak bukan yang dia rasakan adalah kesedihan. Kakeknya, pada akhirnya seolah berjanji untuk nggak lagi meninggalkan Dylan, paling nggak sampai Dylan dewasa. Dan walaupun tumbuh besar menjadi seorang anak punk rock ngeband di club underground, kita semua bisa ngerasain kalau itu semua akibat kesepian yang dia rasakan sejak dia kecil.

Funfact : Dylan dinamakan dari penyanyi Bob Dylan, kesukaan Abby. Makanya lagu "Make You Feel My Love" sering banget diputar di sini.

Chapter Ketiga, Keempat, Kelima akan menceritakan gimana semuanya bersambung, kenapa Abby bisa kecelakaan, kenapa nasib seorang Dylan bisa berhubungan dengan sebuah keluarga dari Spanyol, the Gonzalez Family, gimana Antonio Banderas bisa terikat sama kehidupannya seorang gadis yatim piatu di New York, dan lainnya.

Pokoknya pada akhirnya, bukan jarak, bukan waktu, yang bisa memisahkan seseorang satu sama lain. Kayaknya setiap yang diambil, pasti akan dikasi sesuatu sama Tuhan.

"As long you keep run further, you'll find love"

Saya pikir, akan banyak orang tersentuh sama ceritanya.

Ternyata tidak. Ulasannya biasa aja, liat aja ini di wikipedia :

Mungkin ini nggak cocok sama selera kebanyakan orang. Tapi percayalah, film ini membuka mata saya tentang jalannya kehidupan. Saya sudah kehilangan banyak orang yang saya cintai, sekarang saya cuma bisa mengenang dan menjalani kehidupan saya ke depannya. Apakah saya takut? Takut banget, saya saat ini hanya tinggal berdua dengan ibu saya, dan kakak saya harus jauh di benua yang lain. Tapi apakah saya harus menyerah dengan kehidupan saya sekarang?

Nggak, saya nggak punya alasan untuk menyerah. Saya belajar dari Dylan yang seems broken but she never stops to live, until she finds love. Saya belajar banyak dari setiap tokoh itu, bahwa segala sesuatunya sudah diatur sama yang di atas. Saya menyebutNya Tuhan, pelita dalam hidup saya.

Kita punya alasan untuk bersedih, but no matter how bitter life is, we only need to run further. Then we'll find the answer

Ini adalah beberapa scene yang menurut saya menjadi poin untuk mengerti jalannya film ini :

Ketika Abby ngasih tahu Will tentang tesisnya, "Life Itself"


And this is how Isabel tells Rodrigo about life, where death doesn't mean a full stop in life itself. The story keeps going, inherited from our great grandparents, grandparents, parents, us, our children, our grandchildren, great-grandchildren and so on



Filmnya terlalu bagus buat saya, jadi, silahkan kalau anda tertarik nonton. Tenang saja, ceritanya tidak serumit itu. Ceritanya berputar. Circle of Life. Cheers!


-stella

Comments

Popular posts from this blog

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

Drama Ngeklik Internsip (Part 2) : END!

I'm dying to get this announcement! Setelah beberapa minggu ini cukup hectic, saya baru kesampaian untuk menuliskan pengalaman ngeklik isip yang dag-dig-dug-dhuar itu. Karena sudah telat updatenya, jadi saya segera ceritakan saja ya, tentang jatuh bangun ngeklik isip. Note : sebetulnya agak hiperbola kalau dibilang drama. Tapi, ini adalah salah satu momen drama dalam hidup saya akhir-akhir ini. jadi, enjoy aja ya. kan kalo judulnya nggak drama, nanti kalian ngga mau baca lagi hahaha lol! Phase 1 : Survey! Sebulan atau dua bulan sebelum ngeklik, saya survey nih ya ke tempat ngeklik. Ngapain sih survey? Dasarnya adalah karena warnet ini jauh banget dari rumah saya, dan saya sangat asing dengan daerah ini. Kebetulan saya nganggur, saya memutuskan buat mengunjungi warnet-warnet ini. Dua warnet yang saya pilih adalah Mineski dan Supernova, dan dua-duanya berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Beneran buta daerah sana. Selain itu, saya juga sebenernya pengen tahu...

Euforia World Cup

Waa, saya lagi pengen nonton bola! Tepatnya lagi hot-hotnya nonton bola. Bukan berarti bola gelinding, terus gue pantengin sampai jereng, tapi nonton World Cup. Yup, ajang sepakbola terbesar yang diadain 4 tahun sekali ini ditunggu jutaan umat manusia, salah satunya gue. World Cup emang beda dari cup-cup yang lain. Kalau menurut gue, tayangan wajib nonton adalah Euro sama World Cup. Dan jagoan kali ini dan selamanya tak lain dan tidak bukan adalah G e r m a n y.. OK, sekarang bukan saatnya ngomongin siapa yang bakal juara atau siapa tim favorit. Tapi tentang euforianya, tentang ramenya ajang sepak bola ini, tentang hebohnya, dan tentang sukacitanya. Banyak banget orang-orang Afrika yang (maaf) lagi kesusahan, tapi bisa sejenak senang-senang gara-gara si world cup, yah pokoknya, World Cup membawa kebahagiaan. Gak sekedar pertarungan antara tim dari negara mana yang paling hebat. It gives some spirits, happiness, and laughs to all people. Personally, I'm admiring to Soccer. Not just ...