Skip to main content

Posts

Intermezzo #3 : Life Itself

Life Itself (other poster version) Instead of having bedrest since I had a double infection (typhoid + varicella) or doing other more important kinds of stuff like mengisi borang isip, saya kembali menulis Intermezzo. Dan betul adanya kalau Intermezzo #2  terakhir ditulis sebulan lalu. Jadi, di sela-sela kesibukan saya sebagai isip (padahal percayalah kalau waktu luang saya >>>>> dibandingkan waktu kerja saya). Lagipula menurut blogger favorit saya, Bang Ariev Rahman  (sila di klik untuk menelusuri blognya yang ciamik), menulis itu kalau nggak dijadikan kebiasaan (dan seperti kata orang bijak pada umumnya, bisa karena terbiasa), jelas nggak akan berkembang huehehe. Oleh karena itu, saudara sebangsa dan se-Tanah Air, izinkan saya menyampaikan prolog yang tidak penting ini, dan apabila kalian bosan, silahkan skip ke paragraf berikutnya.. Karena disini, saya baru mulai bercerita.. Di suatu siang bolong, tetiba ibu saya iseng memindahkan saluran TBV...

Intermezzo #2 : Semarang, Bukan Pergi Tapi Kembali

it will lasts, forever! Halo, numpang menulis lagi di Intermezzo. Namanya juga Intermezzo, jadi bahasannya ya selingan, sesuatu yang ringan. Yang kesannya mungkin tidak penting bagi sebagian orang, tapi penting bagi saya. Oleh karena itu, saya guratkan melalui cerita dalam sesi Intermezzo ini. Nyemarang. Kembali ke Semarang Dulu, tahun 2014, 2015, 2016, 2017, bahkan di 2018, kembali ke Semarang adalah sebuah kesedihan tersendiri sebagai anak rantau. Ujian lagi, remed lagi, praktikum lagi, jaga lagi, dan begitu seterusnya. Walaupun kesedihannya berlangsung sebentar karena jujur saya mencintai kota ini, kota yang membuat saya tumbuh berkembang dan mampu melihat sisi-sisi lain kehidupan timbang 18 tahun hidup di kota asal. Setiap ke Semarang, saya cuma bisa berkata "Yah balik lagi" dan diikuti dengan petuah ibu saya, "Eits! Jangan mengeluh". Saking bosennya saya diceramahi, saya memutuskan untuk beneran tidak mengeluh. Tapi, berbeda begitu setelah lulu...

Intermezzo #1 : Many Reasons (Not) To Judge! Edisi Anak Kereta

Suasana di Gerbong Kereta Manusia, dianugerahi oleh akal budi sehingga ia mampu mengembangkan diri dari berbagai aspek. Mulai dari sisi eksakta, hingga sisi sosial. Sudah sejak dulu kita berkembang untuk bagaimana berelasi dengan orang lain, dan ternyata semua aspek itu ada seninya, termasuk seni dalam membangun relasi dengan orang lain. Orang lain, stranger, orang yang kita nggak kenal, ada puluhan, ratusan, ribuan di sekitar kita. Dengan berbagai latar belakang yang berbeda, kemudian mampu menciptakan populasi yang dinamakan masyarakat. Menjadi sekelompok orang yang sejak dulu telah membangun adat-istiadatnya, membentuk norma, yakni suatu hukum yang tidak tertulis. Dulu waktu belajar pendidikan kewarganegaraan, hukuman bagi seseorang yang melanggar adat-istiadat, kebiasaan, dan norma adalah hukuman sosial. Mulai dari digunjingkan, sampai paling parah diisolasi, atau diusir dari tempat tersebut. Nilai-nilai ini sifatnya luhur dan tidak seperti hukum kebanyakan, sifatn...

Drama Ngeklik Internsip (Part 2) : END!

I'm dying to get this announcement! Setelah beberapa minggu ini cukup hectic, saya baru kesampaian untuk menuliskan pengalaman ngeklik isip yang dag-dig-dug-dhuar itu. Karena sudah telat updatenya, jadi saya segera ceritakan saja ya, tentang jatuh bangun ngeklik isip. Note : sebetulnya agak hiperbola kalau dibilang drama. Tapi, ini adalah salah satu momen drama dalam hidup saya akhir-akhir ini. jadi, enjoy aja ya. kan kalo judulnya nggak drama, nanti kalian ngga mau baca lagi hahaha lol! Phase 1 : Survey! Sebulan atau dua bulan sebelum ngeklik, saya survey nih ya ke tempat ngeklik. Ngapain sih survey? Dasarnya adalah karena warnet ini jauh banget dari rumah saya, dan saya sangat asing dengan daerah ini. Kebetulan saya nganggur, saya memutuskan buat mengunjungi warnet-warnet ini. Dua warnet yang saya pilih adalah Mineski dan Supernova, dan dua-duanya berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Beneran buta daerah sana. Selain itu, saya juga sebenernya pengen tahu...

Drama Ngeklik Internsip (Part 1)

Beberapa pekan lalu, saya dan teman-teman ceritanya baru saja melakukan pemilihan wahana internsip. Internsip atau selanjutnya lebih enak disebut Isip, adalah momen "magang" satu tahun bagi dokter yang baru lulus dan sudah disumpah, dengan pembagian waktu 8 (delapan) bulan di Rumah Sakit dan 4 (empat) bulan di Puskesmas. Nah, Isip ini sebenarnya adalah pematangan seorang dokter baru untuk lebih luwes bekerja baik di Rumah Sakit ataupu pusat pelayanan primer seperti Puskesmas. Keberadaannya sendiri, walaupun sudah berjalan sekian tahun, tapi masih menuai pro dan kontra di kalangan para dokter, terutama bagi kami yang harus menjalaninya. Yang seru dari Isip ini, tak lain dan tak bukan adalah sesi pemilihan wahana. Ada sejuta jalan dan cara yang ditempuh demi memperoleh wahana yang diidamkan. Wah, kalo gitu ada wahana idaman dan ada wahana yang nggak favorit dong? BINGO! Memang, ribuan wahana telah disediakan, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Tapi, sudah jadi raha...

(Bukan) Tips and Tricks UKMPPD!

Sudah seabad tidak menulis, akhirnya tergerak nulis setelah beberapa saat lalu ada adik-adik yang nanya : "Kak, bentar lagi UKMPPD, huhu" "Kak, lesnya gimana?" "Kak, aku ikut les yang mana ya kak?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah beberapa (dari sekian) pertanyaan yang saya ajukan ke kakak-kakak yang sebelumnya sudah lulus UKMPPD sebelumnya. Jujur, dari sekian banyak hal yang saya takutkan, UKMPPD ini adalah salah satunya. Kalau ditarik beberapa bulan ke belakang, masih nggak nyangka bisa lulus. UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) merupakan ujian akhir yang pastinya harus dilewati setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia untuk dapat lulus dan akhirnya disumpah menjadi seorang dokter. Karena ujian ini betul-betul yang terakhir sebelum memperoleh gelar dokter, makanya perjuangannya gila-gilaan. Tapi, harus segila apa sih? Tulisan ini, seperti judulnya : Bukan Tips and Tricks, maka isinya memang bukan gimana caranya kita lul...

[throwback story] Dari Mata Seorang Koas di Bangsal

#koasbercerita Dari Mata Seorang Koas di Bangsal Setiap jaga, seperangkat alat perang mulai dari tensimeter, temp, saturasi, semua tersimpan dalam satu tas, tas warna-warni. Kubawa yang biru, temanku merah, temanku lainnya hijau. Handphone siap di kantung kanan, pulpen dan list pasien yang hendak dipantau siap di kantung kiri, dan stetoskop menggantung dengan pasrahnya di leher. Jam 16.00, jaga pun dimulai. Dari satu bangsal ke bangsal lain, mendatangi pasien, melingkari tensi, mencatat, dan berulang sepanjang malam. Kadang bertemu pasien yang senang sekali tampaknya walau cuma ditensi, kadang bertemu pasien yang gelisah sampai kau terusik untuk kepo dan melihat rekam medisnya, kadang bertemu pasien yang tidur, atau...yang sudah bosan berhadapan dengan para dokter muda ini. Lalu, ada yang beda di jaga kali ini. Kulihat, ada sesuatu, yang biasa kamu lihat di film-film romance di bioskop. Kamu bisa melihat cinta. Ya, ada cinta di bangsal. Di kala bangsal itu pengap, kadang bau ta...